Rabu, 27 Oktober 2010
Psikologi Konsumen 1
Psikologi konsumen berakar pada psikologi periklanan dan penjualan. Pada psikologi konsumen tercakup penelitian tentang konsumen sebagai pembeli dan konsumen sebagai konsumen, konsumen sebagai warga negara, serta sebagai sumber data dari pengetahuan perilaku dasar. Masing-masing metode yang digunakan dalam psikologi konsumen memiliki keluasan perbedaan dalam hal disain eksperimentalnya, subjek yang diteliti, prosedur pengumpulan data, dan instrumen instrumennya.
Ada 6 kategori utama penelitian yang digunakan yaitu:
a. Efektivitas pengujian periklanan,
b. Survei, pendapat konsumen,
c. Penilaian sikap konsumen melalui skala. penilaian (rating scale) dan teknik projektif (projective to tecniques),
d. Pembagian pasar psikologis,
e. Pengujian produk,
f. Studi per ilaku konsumen dalam keadaan alam.
Efektivitas pengujian periklanan menggunakan teknik teknik seperti: simulasi eksperimental iklan, “mechanical devices” panel pendapat konsumen, survei pembaca dan audience, analisis daftar pembelian melalui surat pesanan, koleksi data pemakaian cap dagang, dan catatan-catatan penjualan. Pada survei pendapat konsumen masalah metodologi dasar seperti prosedur sampling dan pembuatan kuesioner sangat diperhatikan. Sampling dapat diambil secara random atau “stratified” pertanyaan pertanyaan pada kuesioner diformulasikan dengan hati hati tentang kebutuhan konsumen dan diujikan pada sampel yang dianggap mewakili kelompok konsumen.
Penelitian sikap konsumen terhadap produk atau pelayanan dapat dilakukan dengan skala penilaian (rating scale) seperti “Semantic Differential” dan dapat pula melalui teknik teknik projektif seperti interpretasi terhadap gambar, bermain peran, visualisasi. Untuk sampel kecil dapat digunakan “depth interviews”. Pembagian pasar psikologis mengajikan deskripsi gabungan tentang kepribadian dan gaya hidup pemakai produk, media, dan atau jasa. Pengujian produk dapat memakai berbagai bentuk uji seperti penelitian identifikasi merek dan pilihan merek, penelitian makanan yang dapat diterima dan air layak minum, dan studi studi pengembangan produk. Studi tentang konsumen dalam keadaan alami timbul dari studi yang pernah dilakukan dalam psikologi ekologi.
2. Perilaku Konsumen
Perilaku manusia digerakkan oleh kebutuhan kebutuhan dasar. Sebagai sosial, perilaku individu dipengaruhi oleh lingkungannya. Lingkungan sosial selain berfungsi sebagai alat pemenuhan kebutuhan juga berfungsi kontrol terhadap perilaku individu. Karena individu terlibat dalam mengonsumsi benda benda dan jasa dari lingkungannya, maka dia memiliki perilaku konsumen. Sebagai konsumen, individu akan berada pada situasi yang mengharuskannya akan berada pada situasi yang mengharuskannya membuat keputusan. Proses memutuskan untuk membeli ada dua macam, yaitu Proses yang biasa atau terbatas dan proses yang diperpanjang (extended).
Ada beberapa definisi perilaku konsumen yang dikemukakan oleh para pakar. Diantaranya menurut Engel (1995), perilaku konsumen adalah tindakan yang langsung terlibat untuk mendapatkan, mengkonsumsi, dan menghabiskan produk atau jasa, termasuk proses keputusan yang mendahuluidan mengukuti tindakan ini. Sementara, Loudon dan Bitta (1988) lebih menekankan perilaku konsumen sebagai suatu proses pengambilan keputusan yang mensyaratkan individu untuk mengevaluasi, memperoleh, menggunakan, atau mengatur barang dan jasa.
Menurut Kotler dan Amstrong (2006), mengartikan perilaku konsumen sebagai perilaku pembelian konsumen akhir, baik individu maupun rumah tangga yang membeli produk untuk konsumsi personal.
Dari definisi-definisi diatas dapat ditarik beberapa kesimpulan, yaitu:
Perilaku konsumen menyoroti perilaku individu dan rumah tangga.
Perilaku konsumen menyangkut suatu proses kepurtusan sebelum pembelian serta tindakan dalam memperoleh, memakai, mengkonsumsi dan menghabiskan produk.
Memahami perilaku konsumen meliputi perilaku yang dapat diamati sperti jumlah yang dibelanjakan, kapan, dengan siapa, oleh siapa, dan bagaimana barang yang sudah dibeli dikonsumsi. Juga termasuk variabel-variabel yang tidak dapat diamati seperti nilai-nilai yang tidak dimiliki oleh konsumen, kebutuhan pribadi, persepsi, bagaimana mereka mengevaluasi alternatif dan apa yang mereka rasakan tentang kepemilikan dan penggunaan produk yang bermacam-macam.
Perilaku konsumen, seperti didefinisikan oleh Schiffman dan Kanuk (2000), adalah “proses yang dilalui oleh seseorang dalam mencari, membeli, menggunakan, mengevaluasi, dan bertindak pasca konsumsi produk, jasa maupun ide yang diharapkan bisa memenuhi kebutuhannya”. Jadi, dapat dikatakan bahwa perilaku konsumen merupakan studi tentang bagaimana pembuat keputusan (decision units), baik individu, kelompok, ataupun organisasi, membuat keputusan-keputusan beli atau melakukan transaksi pembelian suatu produk dan mengkonsumsinya.
Ada beberapa hal penting yang dapat diungkapkan dari definisi di atas:
Perilaku konsumen adalah suatu proses yang terdiri dari beberapa tahap yaitu:
· Tahap perolehan (acquisition): mencari (searching) dan membeli (purchasing)
· Tahap konsumsi (consumption): menggunakan (using) dan mengevaluasi (evaluating)
· Tahap tindakan pasca beli (disposition): apa yang dilakukan oleh konsumen setelah produk itu digunakan atau dikonsumsi.
Unit-unit pengambilan keputusan beli (desicion units) menurut Kotler (1991) terdiri dari:
· Konsumen individu yang membentuk pasar konsumen (consumer market).
· Konsumen organisasional yang membentuk pasar bisnis (business market).
Adapun konsep personal consumers dalam definisi tersebut bisa diperjelas lagi sebagai berikut:
Mereka adalah individu yang membeli barang dan jasa untuk:
• Dirinya sendiri
• Memenuhi kebutuhan keluarga
• Dijadikan hadiah untuk orang lain
Jadi, personal consumers membeli produk untuk penggunaan pribadi sehingga personal consumers merupakan pengguna akhir (end user atau ultimate consumer). Istilah pembelin (buyer) digunakan untuk consumer yang membeli tetapi belum tentu menggunakannya (user).
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa untuk melaksanakan semua kegiatan dalam proses manajemen pemasaran, pemasar perlu mengetahui perilaku konsumen. Sasarannya supaya kiat-kiat pemasaran yang dilakukan benar-benar mengarah pada profitability dari perusahaan.
Ada sejumlah alasan mendasar mengapa perilaku konsumen dipelajari:
Konsumen dengan perilakunya (terutama perilaku beli) adalah wujud dari kekuatan tawar yang merupakan salah satu kekuatan kompetitif yang menentukan intensitas persaingan dari profitability perusahaan.
Analisis konsumen adalah landasan manajemen pemasaran dan akan membantu manajer dalam melakukan hal berikut:
• Merancang baur pemasaran
• Melakukan segmentasi pasar
• Melaksanakan positioning
• Melakukan analisis lingkungan perusahaan
• Mengembangkan trendd penelitian pasar
• Mengembangkan produk baru maupun inovasi produk lama
Analisis konsumen memainkan peran sangat penting dalam pengembangan kebijakan publik. Misalnya: perilaku konsumen terhadap sembako yang menghasilkan seperangkat peraturan pemerintah yang mengatur persediaan sembako tersebut.
Pengetahuan mengenai perilaku konsumen dapat meningkatkan kemampuan pribadi seseorang untuk menjadi konsumen yang lebih efektif.
Analisis konsumen memberikan pemahaman tentang perilaku manusia. Studi mengenai perilaku manusia memberikan paling tidak tiga informasi, yaitu:
• Orientasi konsumen
• Fakta tentang perilaku membeli
•Teori-teori yang menuntun proses berpikir
Singkatnya, perilaku konsumen dipelajari agar lebih memahami tentang apa yang dibeli oleh konsumen, mengapa, di mana, kapan dan seberapa sering dia membeli. Pengetahuan ini kemudian dipakai untuk menciptakan cara untuk memuaskan/memenuhi kebutuhan mereka dan menciptakan pendekatan yang baik untuk berkomunikasi dan mempengaruhi mereka. Jadi, itu semua adalah kajian-kajian yang sangat mendasar dalam seluruh kegiatan pemasaran. Sebagai pemasar, perilaku konsumen merupakan pegangan untuk benar-benar menjadikan dirinya digerakkan oleh pasar/konsumen (to be market/consumer driven), sehingga mustahil bila seorang pemasar atau ahli pemasaran mengabaikan pengetahuan dan pemahaman tentang perilaku konsumen. Pemahaman perilaku konsumen, sekali lagi, adalah dasar untuk membanggun keunggulan kompetitif.
3. Perbedaan konsumen, konsumsi, konsumtif, konsumerisme
A. Konsumsi
Dalam kehidupan sehari-hari, konsumsi seringkali dihubungkan pada masalah makanan dan minuman, sesungguhnya tidak sesempit itu pengertian konsumsi, mengendarai sepeda motor juga merupakan kegiatan konsumsi, karena akan mengurangi nilai guna sepeda motor.
Konsumsi adalah suatu kegiatan manusia yang secara langsung menggunakan barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhannya dengan tujuan untuk memperoleh kepuasan yang berakibat mengurangi ataupun menghabiskan nilai guna suatu barang/jasa.
Konsumsi, dari bahasa Belanda consumptie, ialah suatu kegiatan yang bertujuan mengurangi atau menghabiskan daya guna suatu benda, baik berupa barang maupun jasa, untuk memenuhi kebutuhan dan kepuasan secara langsung. Pengeluaran konsumsi personal (personal consumption expenditure) adalah pengeluaran rumah tangga untuk membeli barang baik barang-barang tahan lama (durable goods) maupun barang-barang tidak tahan lama (nondurable/ perishable goods), dan jasa. Jika tujuan pembelian produk tersebut untuk dijual kembali (Jawa: kulakan), maka dia disebut pengecer atau distributor. Pada masa sekarang ini bukan suatu rahasia lagi bahwa sebenarnya konsumen adalah raja sebenarnya, oleh karena itu produsen yang memiliki prinsip holistic marketing sudah seharusnya memperhatikan semua yang menjadi hak-hak konsumen.
Fungsi Konsumsi :
• Suatu fungsi konsumsi menggambarkan hubungan antara konsumsi dan pendapatan
• Kemiringan fungsi/ kurva konsumsi disebut hasrat mengkonsumsi marginal
Contoh konsumsi :
Contoh dari kegiatan konsumsi antara lain: makan, minum, naik kendaraan umum, menonton film di bioskop.
B. Konsumen
Konsumen adalah setiap orang pemakai barang dan atau jasa yang tersedia dalam masyarakat, baik bagi kepentingan diri sendiri, keluarga, orang lain, maupun makhluk hidup lain dan tidak untuk diperdagangkan. Jika tujuan pembelian produk tersebut untuk dijual kembali , maka dia disebut pengecer atau distributor. Pada masa sekarang ini bukan suatu rahasia lagi bahwa sebenarnya konsumen adalah raja sebenarnya, oleh karena itu produsen yang memiliki prinsip holistic marketing sudah seharusnya memperhatikan semua yang menjadi hak-hak.
Konsumen sebagai peng-Indonesia-an istilah asing (Inggris) yaitu consumer, secara harfiah dalam kamus-kamus diartikan sebagai “seseorang atau sesuatu perusahaan yang membeli barang tertentu atau menggunakan jasa tertentu”; atau “sesuatu atau seseorang yang mengunakan suatu persediaan atau sejumlah barang”. ada juga yang mengartikan ” setiap orang yang menggunakan barang atau jasa”

Isengg aja
psikologi konsumen 2 (pemasaran)
PEMASARAN MOBIL KIA

Meskipun masih menjadi andalan di segmen city car, tidak menjadikan PT KIA Mobil Indonesia berpuas diri dengan mobil andalannya KIA Picanto. Karenanya, harapan terus diamanahkan ke si mungil ini.
Direktur Pemasaran PT KIA Mobil Indonesia, Hartanto Sukmono menuturkan, kehadiran KIA Picanto Cosmo bakal semakin memperkuat eksistensi KIA di segmen city car.
“Kehadiran KIA Picanto Cosmo jelas memperkuat tulang punggung KIA di segmen city car,” ungkapnya saat peluncuran Picanto Cosmo di ajang IIMS, di JIExpo Kemayoran, Jakarta.
Muncul dengan tampilan yang lebih cantik namun tetap sportif dan juga dinamis, Picanto Cosmo sudah dipercantik terutama di bagian wajahnya dengan grill baru serta foglamp yang tidak lagi membulat, tapi tajam berbentuk daun.
KIA melalui Hartanto pun sangat berharap, bahwa sebanyak 4.200 unit Picanto pada tahun ini bisa habis terjual, dengan tetap mengarah segmentasi anak-anak muda.
Hadir dalam dua varian, KIA melempar Picanto Cosmo transmisi manual dengan harga Rp 116,5 Juta, dan Picanto Cosmo transmisi otomatis dilego seharga Rp 132,5 juta.
“Hanya naik satu juta, itu masih sangat-sangat kompetitif,” tutup Hartanto.
New KIA Picanto Cosmo 2010 diprediksi akan memimpin di kelasnya dan merupakan mobil favorit city car. KIA Picanto dengan 13 penghargaan yang diberikan oleh Media di Indonesia dan luar negeri sehingga di juluki “The Awarded Car
PICANTO memiliki sekitar 30% dari pasar city car 2004 – 2006
Picanto Memiliki kestabilan yang tinggi, dengan jarak pijak roda yang lebar dan AOH yang rendah membuat Picanto lebih baik dalam ber manuver.
Dengan Engine 1.100 CC yang didukung oleh teknologi yang canggih menghasilkan performa Picanto lebih optimal. Bahkan All New KIA Picanto.
Spesifikasi KIA Picanto
Eksterior KIA Picanto
STABIL
Dengan jarak pijak roda depan dan belakang yang lebih lebar, Picanto lebih stabil untuk bermanuver.
IRIT
Picanto dapat menempuh 23 km* dengan konsumis bahan bakar 1 liter, sehingga Picanto dapat menghemat budget biaya operasional anda.
*hasil pengetesan majalah mobil motor
LEGA
Interior KIA Picanto paling lega dikelasnya, sehingga nyaman untuk 5 penumpang.
EKONOMIS
Harga yang ekonomis dan tersedia transmisi automatic dengan harga terjangkau.
Jika dilihat seklias, mobil ini tampak lucu dan imut. Tapi jika dibandingkan dengan kompetitor nya, mobil New KIA Picanto termasuk paling lega di kelas nya. Walau terlihat lucu dan imut, kesan sporty masih melekat didalam nya. Hal ini bisa dilihat dari velg 14 inchi yang di balut karet hitam dengan type radial, spoiler yang ada di buritan mobil ini, dan lampu depan yang cukup besar, ditambah lagi dengan dua buah fog lamp yang ada di bamper nya, dirasa cukup untuk menerangi jalan ditengah kegelapan.
Suara mesin nya yang halus membuat kita sulit membedakan apakah mesin mobil ini masih menyala atau tidak. Suspensi nya juga lembut membuatnya tetap nyaman di jalan bergelombang, tetapi tentunya masih tetap stabil untuk di jalankan dengan kecepatan cukup tinggi di jalan tol.
Di balik kap mesin mobil new KIA Picanto terdapat mesin 4 silinder 1000cc dengan pengambut bahan bakar yang sudah menggunakan injection, aki kering sehingga memudahkan anda dalam perawatan nya. Tenaga mesin KIA Picanto juga cukup besar bila dibandingkan dengan bobot nya yg hanya berkisar 800 Kg. Jika dilihat dari spesfikasi KIA Picanto, mobil ini mampu memuntahkan Horse power (HP) sampai dengan 64 HP di 5500 Rpm.
Dan dengan torsi maksimum nya mencapai 9.8 kg.m di 2800 Rpm. Sehingga membuat mobil ini lincah dalam membelah kemacetan, dan cukup bertenaga untuk melahap tanjakan. Tidak hanya itu saja, mobil KIA Picanto juga irit bahan bakar, krna menurut pengetesan yang pernah di lakukan oleh lembaga survey yang ada, untuk 1 liter bensin Mobil KIA ini mampu menempuh perjalanan kurang lebih 23Km.
Untuk sarana hiburan ketika sedang dalam perjalanan, New KIA Picanto sudah dilengkapi dengan CD, MP3, Port USB, Port IPOd, dan radio tentunya. Sehingga memberikan kemudahan anda untuk memutar lagu-lagu kesayangan anda. Bila dilihat dari segala kelebihan yang ada di atas, pantas lah kalau New KIA Picanto memenangkan 13 penghargaan berturut-turut sejak pertama kali mobil ini diluncurkan pertama kali pada tahun 2004.
*Syarat dan ketentuan berlaku
All New Picanto 2010, Memenangkan Berbagai Penghargaan
DAFTAR PUSAKA:
http://dealerkia.com/kia-picanto.html
AYU MERITA
3 PA 05
10507032
PSIKOLOGI
Minggu, 10 Oktober 2010
K\PSIKOLOGI KONSUMEN
PSIKOLOGI KONSUMEN
1. Psikologi Konsumen
Psikologi konsumen berakar pada psikologi periklanan dan penjualan. Pada psikologi konsumen tercakup penelitian tentang konsumen sebagai pembeli dan konsumen sebagai konsumen, konsumen sebagai warga negara, serta sebagai sumber data dari pengetahuan perilaku dasar. Masing-masing metode yang digunakan dalam psikologi konsumen memiliki keluasan perbedaan dalam hal disain eksperimentalnya, subjek yang diteliti, prosedur pengumpulan data, dan instrumen instrumennya.
Ada 6 kategori utama penelitian yang digunakan yaitu:
a. Efektivitas pengujian periklanan,
b. Survei, pendapat konsumen,
c. Penilaian sikap konsumen melalui skala penilaian (rating scale) dan teknik projektif (projective to tecniques),
d. Pembagian pasar psikologis,
e. Pengujian produk,
f. Studi per ilaku konsumen dalam keadaan alam.
Efektivitas pengujian periklanan menggunakan teknik teknik seperti: simulasi eksperimental iklan, “mechanical devices” panel pendapat konsumen, survei pembaca dan audience, analisis daftar pembelian melalui surat pesanan, koleksi data pemakaian cap dagang, dan catatan-catatan penjualan. Pada survei pendapat konsumen masalah metodologi dasar seperti prosedur sampling dan pembuatan kuesioner sangat diperhatikan. Sampling dapat diambil secara random atau “stratified” pertanyaan pertanyaan pada kuesioner diformulasikan dengan hati hati tentang kebutuhan konsumen dan diujikan pada sampel yang dianggap mewakili kelompok konsumen.
Penelitian sikap konsumen terhadap produk atau pelayanan dapat dilakukan dengan skala penilaian (rating scale) seperti “Semantic Differential” dan dapat pula melalui teknik teknik projektif seperti interpretasi terhadap gambar, bermain peran, visualisasi. Untuk sampel kecil dapat digunakan “depth interviews”. Pembagian pasar psikologis mengajikan deskripsi gabungan tentang kepribadian dan gaya hidup pemakai produk, media, dan atau jasa. Pengujian produk dapat memakai berbagai bentuk uji seperti penelitian identifikasi merek dan pilihan merek, penelitian makanan yang dapat diterima dan air layak minum, dan studi studi pengembangan produk. Studi tentang konsumen dalam keadaan alami timbul dari studi yang pernah dilakukan dalam psikologi ekologi.
2. Perilaku Konsumen
Perilaku manusia digerakkan oleh kebutuhan kebutuhan dasar. Sebagai sosial, perilaku individu dipengaruhi oleh lingkungannya. Lingkungan sosial selain berfungsi sebagai alat pemenuhan kebutuhan juga berfungsi kontrol terhadap perilaku individu. Karena individu terlibat dalam mengonsumsi benda benda dan jasa dari lingkungannya, maka dia memiliki perilaku konsumen. Sebagai konsumen, individu akan berada pada situasi yang mengharuskannya akan berada pada situasi yang mengharuskannya membuat keputusan. Proses memutuskan untuk membeli ada dua macam, yaitu Proses yang biasa atau terbatas dan proses yang diperpanjang (extended).
Ada beberapa definisi perilaku konsumen yang dikemukakan oleh para pakar. Diantaranya menurut Engel (1995), perilaku konsumen adalah tindakan yang langsung terlibat untuk mendapatkan, mengkonsumsi, dan menghabiskan produk atau jasa, termasuk proses keputusan yang mendahuluidan mengukuti tindakan ini. Sementara, Loudon dan Bitta (1988) lebih menekankan perilaku konsumen sebagai suatu proses pengambilan keputusan yang mensyaratkan individu untuk mengevaluasi, memperoleh, menggunakan, atau mengatur barang dan jasa.
Menurut Kotler dan Amstrong (2006), mengartikan perilaku konsumen sebagai perilaku pembelian konsumen akhir, baik individu maupun rumah tangga yang membeli produk untuk konsumsi personal.
Dari definisi-definisi diatas dapat ditarik beberapa kesimpulan, yaitu:
- Perilaku konsumen menyoroti perilaku individu dan rumah tangga.
- Perilaku konsumen menyangkut suatu proses kepurtusan sebelum pembelian serta tindakan dalam memperoleh, memakai, mengkonsumsi dan menghabiskan produk.
Memahami perilaku konsumen meliputi perilaku yang dapat diamati sperti jumlah yang dibelanjakan, kapan, dengan siapa, oleh siapa, dan bagaimana barang yang sudah dibeli dikonsumsi. Juga termasuk variabel-variabel yang tidak dapat diamati seperti nilai-nilai yang tidak dimiliki oleh konsumen, kebutuhan pribadi, persepsi, bagaimana mereka mengevaluasi alternatif dan apa yang mereka rasakan tentang kepemilikan dan penggunaan produk yang bermacam-macam.
Perilaku konsumen, seperti didefinisikan oleh Schiffman dan Kanuk (2000), adalah “proses yang dilalui oleh seseorang dalam mencari, membeli, menggunakan, mengevaluasi, dan bertindak pasca konsumsi produk, jasa maupun ide yang diharapkan bisa memenuhi kebutuhannya”. Jadi, dapat dikatakan bahwa perilaku konsumen merupakan studi tentang bagaimana pembuat keputusan (decision units), baik individu, kelompok, ataupun organisasi, membuat keputusan-keputusan beli atau melakukan transaksi pembelian suatu produk dan mengkonsumsinya.
Ada beberapa hal penting yang dapat diungkapkan dari definisi di atas:
- Perilaku konsumen adalah suatu proses yang terdiri dari beberapa tahap yaitu:
- · Tahap perolehan (acquisition): mencari (searching) dan membeli (purchasing)
- · Tahap konsumsi (consumption): menggunakan (using) dan mengevaluasi (evaluating)
- · Tahap tindakan pasca beli (disposition): apa yang dilakukan oleh konsumen setelah produk itu digunakan atau dikonsumsi.
- Unit-unit pengambilan keputusan beli (desicion units) menurut Kotler (1991) terdiri dari:
- · Konsumen individu yang membentuk pasar konsumen (consumer market).
- · Konsumen organisasional yang membentuk pasar bisnis (business market).
Adapun konsep personal consumers dalam definisi tersebut bisa diperjelas lagi sebagai berikut:
Mereka adalah individu yang membeli barang dan jasa untuk:
- Dirinya sendiri
- Memenuhi kebutuhan keluarga
- Dijadikan hadiah untuk orang lain
Jadi, personal consumers membeli produk untuk penggunaan pribadi sehingga personal consumers merupakan pengguna akhir (end user atau ultimate consumer). Istilah pembelin (buyer) digunakan untuk consumer yang membeli tetapi belum tentu menggunakannya (user).
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa untuk melaksanakan semua kegiatan dalam proses manajemen pemasaran, pemasar perlu mengetahui perilaku konsumen. Sasarannya supaya kiat-kiat pemasaran yang dilakukan benar-benar mengarah pada profitability dari perusahaan.
Ada sejumlah alasan mendasar mengapa perilaku konsumen dipelajari:
- Konsumen dengan perilakunya (terutama perilaku beli) adalah wujud dari kekuatan tawar yang merupakan salah satu kekuatan kompetitif yang menentukan intensitas persaingan dari profitability perusahaan.
- Analisis konsumen adalah landasan manajemen pemasaran dan akan membantu manajer dalam melakukan hal berikut:
- Merancang baur pemasaran
- Melakukan segmentasi pasar
- Melaksanakan positioning
- Melakukan analisis lingkungan perusahaan
- Mengembangkan trendd penelitian pasar
- Mengembangkan produk baru maupun inovasi produk lama
- Analisis konsumen memainkan peran sangat penting dalam pengembangan kebijakan publik. Misalnya: perilaku konsumen terhadap sembako yang menghasilkan seperangkat peraturan pemerintah yang mengatur persediaan sembako tersebut.
- Pengetahuan mengenai perilaku konsumen dapat meningkatkan kemampuan pribadi seseorang untuk menjadi konsumen yang lebih efektif.
- Analisis konsumen memberikan pemahaman tentang perilaku manusia. Studi mengenai perilaku manusia memberikan paling tidak tiga informasi, yaitu:
- Orientasi konsumen
- Fakta tentang perilaku membeli
- Teori-teori yang menuntun proses berpikir
Singkatnya, perilaku konsumen dipelajari agar lebih memahami tentang apa yang dibeli oleh konsumen, mengapa, di mana, kapan dan seberapa sering dia membeli. Pengetahuan ini kemudian dipakai untuk menciptakan cara untuk memuaskan/memenuhi kebutuhan mereka dan menciptakan pendekatan yang baik untuk berkomunikasi dan mempengaruhi mereka. Jadi, itu semua adalah kajian-kajian yang sangat mendasar dalam seluruh kegiatan pemasaran. Sebagai pemasar, perilaku konsumen merupakan pegangan untuk benar-benar menjadikan dirinya digerakkan oleh pasar/konsumen (to be market/consumer driven), sehingga mustahil bila seorang pemasar atau ahli pemasaran mengabaikan pengetahuan dan pemahaman tentang perilaku konsumen. Pemahaman perilaku konsumen, sekali lagi, adalah dasar untuk membanggun keunggulan kompetitif.
Pengaruh Ilmu-Ilmu Lain dalam Mempelajari Perilaku Konsumen
Mempelajari perilaku tidak terlepas dari pengetahuan yang mendasari perilaku itu sendiri, yang tercakup dalam beberapa cabang psikologi. Hal ini lebih menonjol dalam telaah perilaku konsumen secara individu. Dalam kehidupan konsumen dengan lingkungan sosialnya, acuannya adalah ilmu sosiologi dan demografi. Tinjauan tentang konsumen dalam lingkungan budayanya, peran ilmu-ilmu seperti Sejarah, Budaya, Antropologi dan Geografi tidak dapat diabaikan. Karena perilaku konsumen ini berfokus pada perilaku sepanjang proses membeli, yang di dalamnya termasuk juga transaksi, maka ilmu Ekonomi juga digunakan sebagai acuan penting.
Perbedaan konsumen,konsumsi,konsumtif,konsumerisme
Konsumen adalah setiap orang pemakai barang dan atau jasa yang tersedia dalam masyarakat, baik bagi kepentingan diri sendiri, keluarga, orang lain, maupun makhluk hidup lain dan tidak untuk diperdagangkan Jika tujuan pembelian produk tersebut untuk dijual kembali (Jawa: kulakan), maka dia disebut pengecer atau distributor. Pada masa sekarang ini bukan suatu rahasia lagi bahwa sebenarnya konsumen adalah raja sebenarnya, oleh karena itu produsen yang memiliki prinsip holistic marketing sudah seharusnya memperhatikan semua yang menjadi hak-hak konsumen.
Konsumsi, dari bahasa Belanda consumptie, ialah suatu kegiatan yang bertujuan mengurangi atau menghabiskan daya guna suatu benda, baik berupa barang maupun jasa, untuk memenuhi kebutuhan dan kepuasan secara langsung. Konsumen adalah setiap orang pemakai barang dan atau jasa yang tersedia dalam masyarakat, baik bagi kepentingan diri sendiri, keluarga, orang lain, maupun makhluk hidup lain dan tidak untuk diperdagangkan.[1] Jika tujuan pembelian produk tersebut untuk dijual kembali (Jawa: kulakan), maka dia disebut pengecer atau distributor. Pada masa sekarang ini bukan suatu rahasia lagi bahwa sebenarnya konsumen adalah raja sebenarnya, oleh karena itu produsen yang memiliki prinsip holistic marketing sudah seharusnya memperhatikan semua yang menjadi hak-hak konsumen.
Konsumerisme adalah paham atau ideologi yang menjadikan seseorang atau kelompok melakukan atau menjalankan proses konsumsi atau pemakaian barang-barang hasil produksi secara berlebihan atau tidak sepantasnya secara sadar dan berkelanjutan. Hal tersebut menjadikan manusia menjadi pecandu dari suatu produk, sehingga ketergantungan tersebut tidak dapat atau susah untuk dihilangkan. Sifat konsumtif yang ditimbulkan akan menjadikan penyakit jiwa yang tanpa sadar menjangkit manusia dalam kehidupannya.
AYU MERITA
10507032
4 PA 05
Senin, 04 Januari 2010
sikap pekerjaan dan kepuasan kerja
Definisi/pengertian dari kepuasan kerja
• Newstrom : mengemukakan bahwa “job satisfaction is the favorableness or unfavorableness with employes view their work”. Kepuasan kerja berarti perasaan mendukung atau tidak mendukung yang dialami [pegawai] dalam bekerja
• Wexley dan Yukl : mengartikan kepuasan kerja sebagai “the way an employee feels about his or her job”. Artinya bahwa kepuasan kerja adalah cara pegawai merasakan dirinya atau pekerjaannya. dapat disimpulkan bahwa kepuasan kerja adalah perasaan yang menyokong atau tidak menyokong dalam diri pegawai yang berhubungan dengan pekerjaan maupun kondisi dirinya. Perasaan yang berhubungan dengan pekerjaan melibatkan aspek-aspek seperti upaya, kesempatan pengembangan karir, hubungan dengan pegawai lain, penempatan kerja, dan struktur organisasi. Sementara itu, perasaan yang berhubungan dengan dirinya antara lain berupa umur, kondisi kesehatan, kemampuan dan pendidikan.
• Handoko : Keadaan emosional yang menyenangkan dengan mana para karyawan memandang pekerjaan mereka. Kepuasan kerja mencerminkan perasaan seseorang terhadap pekerjaannya. Ini dampak dalam sikap positif karyawan terhadap pekerjaan dan segala sesuatu yang dihadapi di lingkungan kerjanya.
• Stephen Robins : Kepuasan itu terjadi apabila kebutuhan-kebutuhan individu sudah terpenuhi dan terkait dengan derajat kesukaan dan ketidaksukaan dikaitkan dengan Pegawai; merupakan sikap umum yang dimiliki oleh Pegawai yang erat kaitannya dengan imbalan-imbalan yang mereka yakini akan mereka terima setelah melakukan sebuah pengorbanan. Apabila dilihat dari pendapat Robin tersebut terkandung dua dimensi, pertama, kepuasan yang dirasakan individu yang titik beratnya individu anggota masyarakat, dimensi lain adalah kepuasan yang merupakan sikap umum yang dimiliki oleh pegawai makan nasi goreng
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kepuasan Kerja
• lima aspek yang terdapat dalam kepuasan kerja, yaitu
1. Pekerjaan itu sendiri (Work It self),Setiap pekerjaan memerlukan suatu keterampilan tertentu sesuai dengan bidang nya masing-masing. Sukar tidaknya suatu pekerjaan serta perasaan seseorang bahwa keahliannya dibutuhkan dalam melakukan pekerjaan tersebut, akan meningkatkan atau mengurangi kepuasan kerja.
2. Atasan(Supervision), atasan yang baik berarti mau menghargai pekerjaan bawahannya. Bagi bawahan, atasan bisa dianggap sebagai figur ayah/ibu/teman dan sekaligus atasannya.
3. Teman sekerja (Workers), Merupakan faktor yang berhubungan dengan hubungan antara pegawai dengan atasannya dan dengan pegawai lain, baik yang sama maupun yang berbeda jenis pekerjaannya.
4. Promosi(Promotion),Merupakan faktor yang berhubungan dengan ada tidaknya kesempatan untuk memperoleh peningkatan karir selama bekerja.
5. Gaji/Upah(Pay), Merupakan faktor pemenuhan kebutuhan hidup pegawai yang dianggap layak atau tidak.
• Aspek-aspek lain yang terdapat dalam kepuasan kerja :
1. Kerja yang secara mental menantang,Kebanyakan Karyawan menyukai pekerjaan-pekerjaan yang memberi mereka kesempatan untuk menggunakan keterampilan dan kemampuan mereka dan menawarkan tugas, kebebasan dan umpan balik mengenai betapa baik mereka mengerjakan. Karakteristik ini membuat kerja secara mental menantang. Pekerjaan yang terlalu kurang menantang menciptakan kebosanan, tetapi terlalu banyak menantang menciptakan frustasi dan perasaan gagal. Pada kondisi tantangan yang sedang, kebanyakan karyawan akan mengalamai kesenangan dan kepuasan.
2. Ganjaran yang pantas, Para karyawan menginginkan sistem upah dan kebijakan promosi yang mereka persepsikan sebagai adil,dan segaris dengan pengharapan mereka. Pemberian upah yang baik didasarkan pada tuntutan pekerjaan, tingkat keterampilan individu, dan standar pengupahan komunitas, kemungkinan besar akan dihasilkan kepuasan. tidak semua orang mengejar uang. Banyak orang bersedia menerima baik uang yang lebih kecil untuk bekerja dalam lokasi yang lebih diinginkan atau dalam pekerjaan yang kurang menuntut atau mempunyai keleluasaan yang lebih besar dalam kerja yang mereka lakukan dan jam-jam kerja. Tetapi kunci yang manakutkan upah dengan kepuasan bukanlah jumlah mutlak yang dibayarkan; yang lebih penting adalah persepsi keadilan. Serupa pula karyawan berusaha mendapatkan kebijakan dan praktik promosi yang lebih banyak, dan status sosial yang ditingkatkan. Oleh karena itu individu-individu yang mempersepsikan bahwa keputusan promosi dibuat dalam cara yang adil (fair and just) kemungkinan besar akan mengalami kepuasan dari pekerjaan mereka.
3. Kondisi kerja yang mendukung,Karyawan peduli akan lingkungan kerja baik untuk kenyamanan pribadi maupun untuk memudahkan mengerjakan tugas. Studi-studi memperagakan bahwa karyawan lebih menyukai keadaan sekitar fisik yang tidak berbahaya atau merepotkan. Temperatur (suhu), cahaya, kebisingan, dan faktor lingkungan lain seharusnya tidak esktrem (terlalu banyak atau sedikit).
4. Rekan kerja yang mendukung, Orang-orang mendapatkan lebih daripada sekedar uang atau prestasi yang berwujud dari dalam kerja. Bagi kebanyakan karyawan, kerja juga mengisi kebutuhan akan sosial. Oleh karena itu bila mempunyai rekan sekerja yang ramah dan menyenagkan dapat menciptakan kepuasan kerja yang meningkat. Tetapi Perilaku atasan juga merupakan determinan utama dari kepuasan.
5. Kesesuaian kepribadian dengan pekerjaan, Pada hakikatnya orang yang tipe kepribadiannya kongruen (sama dan sebangun) dengan pekerjaan yang mereka pilih seharusnya mendapatkan bahwa mereka mempunyai bakat dan kemampuan yang tepat untuk memenuhi tuntutan dari pekerjaan mereka. Dengan demikian akan lebih besar kemungkinan untuk berhasil pada pekerjaan tersebut, dan karena sukses ini, mempunyai kebolehjadian yang lebih besar untuk mencapai kepuasan yang tinggi dari dalam kerja mereka
Sikap yang harus di miliki oleh seorang pekerja keras.
• Sikap yang harus di miliki oleh seorang pekerja keras.
Menjadi pekerja keras bukanlah hal yang mudah bagi setiap orang, perlu adanya hubungan dan motivasi yang kuat antara kemauan dan kesadaran diri terhadap pekerjaan dan target yang ingin di capai seseorang. Ada banyak hal yang harus kita lakukan untuk menjadi pekerja keras dalam setiap bidang dan urusan diantaranya yaitu:
Pertama, ia harus konsisisten dan mau bekerja sesuai dengan program kerja yang sudah di tentukan.pekerjuaan uyang diberikan kepadanya harus dikerjakan dengan baik sesuai dengan keahlian yang dimilkinya.pekerja yang baik tidak akan mengeluk,enggan jika menghadapi kesulitan.ia selalu konsisten dengan garapan kerja sehingga target yang telah di tetapkan dapat tercapai dengan baik.
Kedua, memiliki kemampuan bekerja sama dengan orang lain.tidak sungkan melakukan konsultasi dengan atasan ataupun rekan kerja sekalipun membawa kesuksesan terhadap kesuksesan kerja kita.
Ketiga, jangan malu bertanya jika memenuhi kesulitan dalam mengerjakan sewsuatu..janagan malu mengemukakan permasalahan yang timbul dalam pekerjaan pada seseorang yang lebih ahli atau senior di atas kita karena bila tidak ditanyakan akan menyebab kan kebingungan pada diri kita dan pekerjaan kitapun akan terhambat oleh permasalahan yang sebenarnya akan tunntas bila kita bertanya.
Keempat, biasakan membuat catatan kerja tentang kegiatan kerja yang akan dilakukan. Catatan kerja tersebut sebaiknya wajib dimiliki dan di bawa agar pekerjaan yang di lakukan tidak ada yang terlewatkan.
Kelima, senantiasa meminta pendapat teman yang lebih senior tentang pekerjaan yang kita lakukan.hal ini memiliki dua keuntungan,keuntungan pertama,dapat membuat ruang lingkup pekerjaaan yang di lakukan sem akin jelas kemudian keuntungan yang kedua dapat membuat orang yang bersangakutan merasa dihargai oleh sikap kita ini.
Sikap
• Bagaimana sikap seseorang terhadap pekerjaan sebenarnya sangat penting bagi semua tingkat usia terutama pada lanjut usia karena tidak hanya mempengaruhi kualitas pekerjaan yang dilakukan tetapi juga sikapnya terhadap masa pensiun yang akan datang. Pada masa lanjut usia, yang juga terjadi pada tingkat usia lain selama rentang hidup masa dewasa, orang mempunyai alasan yang berbeda terhadap pekerjaan yang diinginkan, seperti yang diungkapkan oleh Havighurst Hurlock(1992:414), bahwa sikap terhadap kerja merupakan dasar terhadap pekerjaan yang diinginkan.
• Budaya sikap kerja yang berlaku sebelumnya juga dapat mempengaruhi sikap pekerja lanjut usia terhadap pekerjaannya. Mereka yang pertumbuhan masa dewasanya terjadi ketika sikap budaya terhadap pekerjaan pada umumnya lebih menyenangkan dibandingkan dengan sekarang, mempunyai sikap kerja yang sangat berbeda dibandingkan dengan orang muda. Hal ini mau tidak mau mewarnai sikap mereka terhadap pekerjaannya dan menambah kesulitan mereka dalam menyesuaikan diri karena tidak dapat memperoleh pekerjaan, padahal kondisi secara fisiknya masih memungkinkan untuk bekerja.




